Cerita Pembudidaya Lakkang, Permasalahan dan Masukan Tim DP2
Makassar - Tim Dinas Perikanan dan Pertanian
Kota Makassar melakukan verifikasi kelompok calon penerima hibah di Kelurahan
Lakkang, Kota Makassar, Selasa (21/01/2020).
Pada kesempatan itu, Saya sempat ngobrol
dengan Haris (52) terkait aktifitasnya selaku pembudidaya ikan. Ia adalah Ketua
Kelompok Bonto Perak 01.
Selain aktifitas budidaya ikan, ia juga memiliki usaha pertanian, namun sehari-hari ia lebih fokus pada usaha budidaya perikanan.
Kelompoknya beranggotakan 10 orang pembudidaya dengan luas total lahan budidaya 12,1 Ha. Masing-masing memiliki luas lahan berbeda. Ia sendiri memiliki lahan tambak seluas 1,3 Ha.
Usaha tambaknya merupakan usaha yang dirintis oleh neneknya, kemudian dilanjutkan oleh orang tuanya. Ia pun banyak terlibat membantu ketika orang tuanya yang kelola.
"Ketika tambak masih dikelola oleh
Nenek, disini (Lakkang) belum terlalu banyak rumah, masih berupa hutan. Pada
saat itu, hasilnya juga hanya untuk makan sehari-hari saja, pembeli juga
sangat sedikit," ucapnya sambil menunjuk lahan sekitar tambaknya.
Pada saat dikelola oleh orang tua, awalnya, sekitar tahun 80-an, hasil tambak pada saat itu masih banyak. Sekali panen udang dengan jumlah benih yang ditebar sebanyak 25.000 benih bisa mencapai hasil sebanyak 300-350 Kg.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
"Dulu kalau usia penebaran sudah 1
bulan, orang tua sudah bilang ke anak-anaknya untuk bisa mengambil barang di
warung," jelasnya.
Menurutnya, ketika usia 1 bulan dan dilihat hasilnya bagus, maka itu akan bertahan hingga panen. Beda dengan kondisi saat ini, seminggu sebelum panen pun, terkadang masih mati.
Sudah 5 tahun lebih, ia mengelola sendiri tambak setelah orang tuanya tidak kuat lagi. Namun, hasilnya tidak bisa diandalkan untuk menghidupi keluarga.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
"Selain tambak, saya juga ada lahan
pertanian untuk tambah-tambah penghasilan, agak berat kalau hanya mengandalkan
tambak saja," tambahnya.
Menurutnya, saat ini, untuk sekali panen hanya mampu menghasilkan maksimal 150 kg, walaupun sudah jarang. lebih sering, hasilnya sekali panen 100 kg, namun pernah juga gagal total atau tanpa hasil.
"Sejak banyaknya perusahaan disekitar
sini hasilnya sangat menurun dan susah diprediksi," tutupnya.
Masukan Tim Teknis DP2 dan Penyuluh
Selain Tim DP2, kunjungan kali ini juga turut didampingi oleh beberapa penyuluh perikanan di Kota Makassar.
Menurut Rahmadi, koordinator penyuluh perikanan kota Makassar, dengan status lahan yang merupakan milik pribadi, maka sangat memungkinkan untuk pengelolaan tambak yang lebih serius. Beda halnya, ketika lahannya status sewa.
"Kelompok harus menyediakan tambak tandon dengan tujuan menyediakan air yang sehat untuk mengganti atau menambah air pada petak pemeliharaan udang," ucapnya.
Sementara Tim Teknis DP2 menambahkan, bahwa setelah selesai panen, maka harus diperhatikan persiapan lahan untuk siklus berikutnya seperti pengangkatan lumpur, pembalikan tanah, pengapuran, pengeringan, hingga perlakuan pupuk.

Komentar