Rapat Persiapan Penyusunan Master Plan Kawasan Ekowisata Mangrove Lantebung
Notulen Rapat
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekowisata Mangrove Lantebung
Makassar, 22 Januari 2020
Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar (Abd. Rahman Bando)
-
Di Lantebung, tata kelola
mangrove baru terorganisir pada tahun 2014. Dibentuk oleh kelompok pelestarian
mangrove, dengan bantuan PBB melalui CCDP-IFAD.
-
Pembuatan Jalur Tracking
dibangun secara otodidak oleh masyarakat, tanpa ada pertimbangan unsur aroma,
irama dan warna. Pembangunan dimodali oleh perbankan, seperti Mandiri, BRI,
BCA, dan pihak swasta lainnya.
-
16 meter ketebalan
mangrove, penanamanya semua melibatkan masyarakat lokal dengan dana bantuan
swasta, sama sekali tidak membebani APBD.
-
Saat ini kami menyediakan
space 60 meter, untuk membuat miniatur kepiting, kedepan akan dibuat lagi
miniatur udang, dan ikan. Ini akan menjadi landmark dan objek wisata baru di
Lantebung. Tidak hanya dapat dinikmati dari daratan tapi juga bisa dinikmati
dari udara.
-
Kedepan pembangunan Wisata
Lantebung diharapkan tidak melupakan sejarah pembangunannya.
-
Saat ini kami harapkan
suatu konsep konektifitas antara wilayah di utara Kota Makassar (Kelurahan
Untia, Bira, dan Parangloe) dalam konteks pariwisata.
-
Perlu ditekankan bagi semua
pihak bahwa tidak ada pesisir yang berstatus hak milik.
-
Untuk menanam mangrove di
Lantebung hanya cocok menggunakan bibit lokal hasil budidaya masyarakat lokal
Lantebung. Bibit dari luar seperti dari Takalar dan Jeneponto tidak dapat
tumbuh di Lantebung. Sedangkan tingkat keberhasilan tumbuh bibit lokal mencapai
75%.
-
Perlu membina masyarakat
lokal untuk menjadi pramuwisata.
-
Perlu pembuatan buku
panduan wisata dan peta wisata untuk Kawasan Lantebung.
-
Objek wisata lantebung
perlu di up di buku wisata Kota Makassar, sehingga bisa terkoneksi dengan
destinasi-destinasi wisata lain yang ada di Kota Makassar.
-
Saran untuk menuju ke
Kawasan Lantebung, wisatawan mestinya diarahkan memilih jalur Sungai Tallo
dengan menaiki perahu wisata, nantinya sungai tallo kita jadikan wisata susur
sungai, disekitar sungai tallo kita buatkan spot-spot wisata lain, sebelum
nantinya sampai ke Lantebung wisatawan sudah menikmati spot-spot wisata lain di
sepanjang sungai Tallo, contohnya yang bisa kita kembangkan adalah wisata pulau
Lakkang.
-
Yang perlu menjadi
perhatian khusus bagi kita semua adalah pembebasan lahan untuk lahan parkir,
disana eksisting tidak ada lahan parkir.
Camat Tamalanrea
-
Dalam pengembangan kawasan
ekowisata Lantebung perlu melibatkan semua stakeholder terkait, termasuk
swasta, masyarakat setempat, dan koperasi-koperasi.
-
Perlu dengan detail
mendesain kawasan terkhusus terkait sarana dan prasaran penunjang
-
Untuk kedepannya ada
baiknya lahan yang bersinggungan langsung dengan kawasan perlu dibebaskan,
masyarakat atau rumah penduduk lebih baik direlokasi ke lahan-lahan sekitar
yang tidak produktif. Disana cukup banyak lahan yang tidak - produktif.
-
Perlu mempertegas payung
hukum kawasan Lantebung karena masih tumpang tindih lantebung termasuk kawasan
Wisata atau kawasan industri. Revisi Rencana Tata Ruang di Lantebung harus
dipertegas untuk wisata.
Perwakilan Masyarakat Lantebung (Bapak Sarabba)
-
Lantebung mulai ditanami
mangrove pada tahun 1984 oleh masyarakat lokal.
-
Pada tahun 2006, mulai
lancar penanaman mangrove, dalam setahun penanaman dilakukan 2-3 kali
penanaman. Dalam sekali tanam biasanya menanam 1000-1500 bibit.
-
Pada awal pembangunan
Lantebung ini tidak diperuntukkan untuk kegiatan wisata, hanya sebagai ruang
pertemuan bagi kelompok-kelompok nelayan yang ada disana. Sekarang bukan hanya
wisata tapi juga untuk kegiatan edukasi bagi peneliti-peneliti utamanya
mahasiswa.
-
Mangrove sendiri bisa
dimanfaatkan sebagai obat, akar nafas atau akar tunjang dan daun mangrove bisa
dimanfaatkan sebagai obat kolesterol dan diabetes.
-
Yang menjadi masalah saat
ini, mangrove rusak akibat aktifitas nelayan yang menambatkan kapal-kapalnya
pada mangrove. Hal ini perlu diperhatikan.
Ketua HPI- Himpunan Pramuwisata Indonesia (Andi Basho)
-
Objek wisata bukan hanya
sekedar cantik tapi perlu dipromosikan, perlu menarik wisatawan.
-
Untuk mendukung konsep
ekowisata, maka konstruksi dari kawasan wisata ini harus dari alam, seperti
atap dari pondok tidak boleh terbuat dari seng.
-
Dibawah jalur tracking
mestinya dimanfaatkan sebagai penangkaran ikan laut yang berwarna-warni, jalur
tracking dipasang jaring sedemikian rupa dan diisi ikan yang merupakan hasil tangkapan
nelayan lokal. Nelayan yang menangkap ikan dengan warna yang menarik bisa
menjual ikannya ke pihak pengelola.
-
Selain itu untuk lebih
menarik, ada baiknya ekosistem mangrove dijadikan habitat bagi burung-burung,
kita bekerja sama dengan komunitas pecinta burung untuk memancing burung-burung
untuk bermukim di mangrove.
Dinas Perikanan dan Pertanian (Syamsul Bahri)
-
Perlu memperhatikan
keamanan pengunjung melalui penambahan reling di seluruh sisi tracking.
Keluarga yang berwisata bersama anaknya yang masih kecil tidak tenang dan
khawatir anaknya jatuh ke laut. Dulu dibiarkan tanpa reling karena belum banyak
dibangun gasebo, sekarang sudah ada beberapa penambahan melalui bantuan Bank
Indonesia.
-
Tambat labuh yang ada
sekarang perlu ditata supaya lebih rapi dan tidak kelihatan kumuh. Nelayan
masih menggunakan spanduk bekas sebagai atap pelindung dari panas dan hujan.
Ini terkesan kumuh, apalagi posisinya dekat pintu masuk kawasan ekowisata. Akan
menimbulkan kesan awal yang tidak bagus bagi pengunjung.
-
Sepakat dengan yang
disampaikan oleh HPI bahwa material harus alami, jangan menggunakan seng
seperti yang ada di pondok informasi. Ini sudah sering saya sampaikan ke Pak
Sarabak, termasuk dindingnya juga saya minta untuk dibongkar saja. Selain
karena bahannya dari seng, juga karena menghalangi pandangan pengunjung.
-
Kalau ada penambahan
tracking lagi, disarankan supaya dibangun di bagian terluar mangrove. Selain
untuk menghindari adanya penebangan, juga bisa memberi motivasi untuk
senantiasa melakukan penanaman, agar nantinya pada kedua sisi tracking
ditumbuhi mangrove.
-
Pertemuan berikutnya saya
sarankan supaya dilaksanakan langsung di lokasi. Di sana tersedia pondok
informasi yang bisa menampung sebanyak 40 orang. Tujuannya agar kita tidak
hanya membayangkan, tetapi melihat langsung kondisi di lapangan

Komentar